Tentang Heidegger

Tentang Heidegger

Tentang Heidegger

Monday, September 8, 2014

Tentang Heidegger

Filled under: ,
Print Friendly and PDF Translate

I.                   Heidegger
Martin Heidegger ( 1889-19760) semula dikenal sebagai filosof aksistensialis, sejak 1947 dengan bukunya letter on humanism mulai  dikenal perubahannya, dan selanjutnya dikenal  sebagai tokoh yang memberi landasan ontology modern yang phenomenologist. Dalam pandangan Heidegger  ilmu tentang yang ada pilah dari ilmu positif. Ilmu tentang yang ada merupakan transcendental temporal science, lmu transenden  yang temporal. Makna transenden pada pustaka barat umumnya diartikan  dunia obyektif universal.
Demikian pula makna metaphisik, sebagai dataran obyektif universal. Berbeda dengan makna transenden dan metaphisik dalam pustaka keagamaan.
Dengan bukunya tersebut, Heidegger menjawab pertanyaan murid Sartre,jean beufret bagaimana makna kata humanism dibangun kembali? Heidegger  menjawab bahwa setiap humanisme dapat berakar pada dataran metaphisik atau setidaknya berakar pada sesuatu yang lebih tinggi , dan berakar pada konsep human being sebagai animal razional. Being sebagai being momot commonality (onto-logy) dan momot dasar mutlak dari being, yaitu a supreme being (theo-logy) , sehingga Heidegger mengenalkan konsep being atau Da-sein ( da artinya disini, sein artinya being )
      Duduknya theknologi dalam konsep metaphisik Heidegger dijelaskan sbb: being mempunyai tujuan (Geschick) yang hendak dicapai yaitu die technik. Upya mengungkap being pada dataran human beings, untuk mencapai tujuannya manusia memanipulasi being dengan Gestell atau enframing.
II.                ONTOLOGI
Obyek telaah ontology adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan filsafat metaphisika. Istilah ontology banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam kontekz filsafat ilmu.
Ontology membahas yang ada , yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontology membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal . ontology berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan lorens Bagus: menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
1.      Obyek formal
Obyek formal ontology adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah,  telaahnya akan menjadi telaah monism, paralelisme, atau pluralism. Bagi pendekatan kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialism, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme( aristoteles bukunya de anima. Dalam tafsiran para ahli difahami sebagai upaya mencari alternative bukan dualism, tetapi menampilkan aspek materialism dari mental.
2.      Metode dalam ontology
Lorens bagus memperkenalkam tiga tingkat abstraksi dalam ontology yaitu : abstraksi fisik, bentuk, dan metaphisika.
Abstraksi fisik : menampilkan keseluruhan sifat khas suatu obyek
Abstraksi bentuk: mendiskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis.
Abstraksi metaphisik: mengetengahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau ontology adalah abstraksi metaphisik.
      Menurut lorens bagus metode pembuktian dalam ontology dibagi menjadi 2 yaitu :
a.       Priopri : disusun dg meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat, dan kesimpulan term tengah mjd sebab dari kebenaran kesimpulan.
Contoh :
 Sesutu yang rohani itu kekal  ( Tt-P), Tt : rohani, P: kekal
Jiwa itu sesuatu yang rohani ( S-Tt), S: jiwa, Tt: rohani
Jadi, jiwa itu kekal ( S-P), s: jiwa. P: kekal
b.      A posteriori: term tengah ada sesudah realitas kesimpulan, dan term tengah menunjukan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan.cara pembuktiannya disusun dengan tata silogitik sbb:
Contoh:
a.       Diamna ada senjata dan makanan disana ada manusia ( Tt-S)
Senjata dana makanan ada di sana ( Tt-P)
Jadi , manusia ada di sana ( S-P)
Dalam pembuktian kita mulai dengan akibat dari adanya manusia,akibat adanya manusia ialah adanya senjata dan makanan keleng. Karena itu dari segi metafisika pembuktian a priori tdk dpt dilawan bgtu sja dengn pembuktian metode induktif
b.      Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus ( Tt-S)
Gigi geligi itu gigi geligi  pemakan tumbuhan ( Tt-P)
Jadi, dinasaurus itu pemakan tumbuhan (S-P)
            Bandingan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori diberangkatkan dari term tengah dihubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan, sedangkan a posteriori diberangkatkan dari term tengah dihubungkan dg subyek dan term tengah menjd akibat dari realitas dalam kesimpulan.
Secara umum priori dikenal sebagi metode deduktif, sedangkan aposteriori dikenal sebagi metode induktif.
3.      Ontology naturalistic
Ontology yang lebih berkembang pesat setelah tahun 1960 an adalah ontology naturalistic. Ontology ini menolak yang ada yang supernatural, menolak yang mental, dan menolak universal platonic.
Sejak tahun 1960 banyak karya ontology yang dipengaruhi oleh filosof naturalist, williard van orman quine. [1]
III.             Dimensi Ontologi
v  Definisi ontologi
Ontology merup cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Istilah ontology berasal dari bahasa yunani , yaitu taonta berarti yang berada, dan logos berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian ontology berarti ilmu pengetahuan /ajaran tentang yang berada.
Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan, yag pertama kenyataan yang berupa kebendaan (materi) , kedua kenyataan beupa rohani (kejiwaan).[2]
Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada yakni realitas, realitas adalah ke-riilan, riil artinya kenyataan yang sebenarnya. Juadi hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenytaan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
v  Objek kjian ontology
1.      Objek material  (yang ada , dalam arti semua realitas atau apa saja yang berada. Yang ada bersifat universal dan merupakan obyek material metafisika, di maksud universal bukan berrti menyangkal pohon sebagai pohon, manusia sebagai manusia. Yang ada ttp bersifat actual, bereksistensi.)
Menurut hal-hal yang terselidiki, dikembangkan ilmu pengetahuan mengenai manusia, binatang, tumbuhan, laut, atom, dsb.
Mereka dibedakan menurut objek material/keluasaanya, yaitu menurut aspek ekstensif. Maka layaklah timbul pertanyaan:
Apakah ada suatu ilmu pengetahuan yang umum, sehingga serentak meliputi dan membicarakan segalanya yang ada? Ilmu penge sedemikian itu (andaikata ada) akan bersifat paling ekstensif dan akan merangkum segala objek (material ) penyelidikan ilmiah mana saja.
2.      Objek formal ( meneliti dasar dan arah obyek material, suatu ilmu  pengetahuan yang tidak hanya member keutuhan suatu ilmu , tp pada saat yang sama membedakannya dari bidang lain. Missal obyek formal logika berkutat dg kegiatan mental sesuai dg aturan tertntu dan konsistensi dalam berpikir )
Objek material dapat dikhususkan lagi. Misalnya manusia saja dpt dipandang secra matematis, fisik, biotic, psikis, dsb.mereka dibedakan menurut objek formal / kepadatannya yaitu mnurut aspek intensitas.maka munculah pertanyaan apakah trdpat suatu ilmu pengetahuan yang begitu padat (mendalam), sehingga serentak membicarakan segala aspek / sudut formal yang ada dalam objek (material) mana sj? Ilmu pengetahuan sedemikiian itu ( andaikata ada) akan bersifat paling intensif (padat) dan memuat segala aspek penyelidikan ilmiah mana saja.[3] 
v  Aliran dalam metafisika ontology
Ontology /bagian metafisika yang umum, membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan-persoalan sprit akal dengn benda, hakikat perubahan, pengertian tetg kebebasan dll. Adapun aliran-aliran ontology adalah :
1.      Aliran monoisme : mengagp bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Istilah moisme oleh Thomas Davidson disebt block universe. Paham ini kmudian di bagi mjd 2 aliran yaitu ;
a.       Materialism (naturalism): menggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi bukan rohani.
b.      Idealism (spiritualisme) : beranggapn bahwa hakikat kenyataan yang beraneka raga mini semua berasal dari ruh, taitu sesuatu yang tdk berbentuk dan menempati ruang. Materi / zat itu hanyalah suatu jenis dari penjemaan rohani.
2.      Aliran dualism : aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealism. Menurut aliran ini materi maupun ruh sama-sama merup hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh, bagitupun ruh muncul bukan krna materi, akan tetpi dalam perkembangan selanjurtnya aliran ini masih memiliki masalah dalam menghubungkn dan menyelaraskan kedua aliran tsb.
Aliran dualism merup paham yang serba dua yaitu antara materi ( dasar terakhir segala perubahan dari hal2 yang berdiri sendiri dan unsure bersama yang terdapat di dlam  sgala sesuatu  yang mjd dan binasa ) dan bentuk( pola segala sesuatu yang t4nya di luar dunia, yang berdiri sendiri, lepas dari benda yang konkret, yang adalah penerapannya). Demikian materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan.
3.      Aliran pluralism :segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralism bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralism sebagi pham yang menyatakan bhwa kenyataan ala mini tersusun dari bnyak unsure, lebih dari satu/ dua entitas
4.      Aliran agnotisisme : menganut paham bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu dibalik kenyataannya. Manusia tidak mungkin mengetahui hakikat batu, air, api dsb. Sebab menurut aliran ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh indranya  maupun oleh pikirnnya. Paham ini mengingkri kesanggupna manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun ruhani.
5.      Teologi : dalam bhasa yunani teologi artinya pengetahuan mengenai Allah, yaitu usaha metodis untuk memahami serta menafsirkan kebenaran wahyu. Dalam bahas latin artinyailmu yang mencari pemahaman maksudnya dengan menggunakan sumber daya rasio, khususnya ilmu sejarah dan filsafat, teologi selalu mencari dn tidk pernh sampai pada jawaban terakhir dan pemahaman yang selesai. Sedangkan dalam rung lingkup filsafat metafisika adalh filsafat ketuhanan yang bertitik tolak semata-mata kepada kejadian alam.
Menurut Thomas Aquinas  bahwa manusia dapat mengenal tuhan melalui dukungan akal pikirannya, dengan akal pikiran manusia dapat mengetahui bahwa tuhan itu ada dan sekaligus mengetahui sifat-sifatnya.[4]



[1] Noeng Muhadjir, Filsafat ilmu telaah sistematis fungsional komparatif ( Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), hal 49-52.
[2] A. Sutanto, Filsafat Ilmu ( Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011) hal; 90.
[3] Anton Bakker, Ontologi Metafisika Umum ( Yogyakarta: Kanisius, 1992) hal 13
[4] A. Sutanto, Filsafat Ilmu, hal 94.


Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © 2014. "MASTER MUNYIL". Designed by: BigsMaster