TEKNIK PENGUMPULAN DATA

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Tuesday, October 29, 2013

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Filled under:
Print Friendly and PDF Translate

Assalamu'alaikum Sahabat ISLAM 

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.
Teknik pengumpulan data berdasarkan tekniknya ada tiga macam, yaitu melalui wawancara (interview), angket (kuesioner), dan observasi.
A.           Interview (wawancara)
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk nememukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil.
1.             Macam-macam Wawancara
Esterberg mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur.
a.              Wawancara Terstruktur
Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama, maka diperlukan training kepada calon pewawancara.
b.             Wawancara semiterstruktur
Jenis wawancara ini termasuk dalam kategori in-dept interview, di mana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuannya adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya.
c.              Wawancara tidak terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas di  mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Wawancara ini sering digunakan dalam penelitian pendahuluan atau untuk penelitian yang lebih mendalam tentang subyek yang diteliti. Dalam hal ini, peneliti belum mengetahui secara pasti data yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh responden.
Informasi atau data yang diperoleh dari wawancara sering bias (menyimpang dari seharusnya), sehingga dapat dinyatakan data tersebut subyektif dan tidak akurat. Kebiaaan data ini akan tergantung pada pewawancara, yang diwawancarai dan situasi serta kondisi pada saat wawancara.
2.             Langkah-langkah Wawancara
Licoln dan Guba dalam Sanapiah Faisal, mengemukakan ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu
a.             Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan
b.             Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan
c.             Mengawali atau membuka alur wawancara
d.            Melangsungkan alur wawancara
e.             Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya
f.              Menulis hasil wawancara ke dalam catatan lapangan
g.             Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh

B.          Kuesioner (angket)
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberi seperangkat pertanyya atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila penelititahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu dengan pasti apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar diwilayah yang luas.
1.             Prinsip Penulisan Angket
Uma sekaran mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data, yaitu prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik.
Prinsip penulisan angket:
a.              Isi dan tujuan pertanyaan
b.             Bahasa yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan berbahasa responden.
c.              Tipe dan bentuk pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup.
d.             Pertanyaan tidak mendua
e.              Tidak menanyakan yang sudah lupa
f.              Pertanyaan tidak mengiring
Pertanyaana dalam angket sebaiknya tidak mengiring ke jawaban yang baik saja atau ke jelek saja.
g.             Panjang petanyaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, agar tidak membuat jenuh responden.
h.             Urutan pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari hal yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak. Hal ini perlu dipertimbangkan karena secara psikologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawab.
i.               Prinsip pengukuran
Sebelum instrumen angket tersebut diberikan pada responden, perlu diuji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu, supaya diperoleh data penelitian yang valid dan reliabel.
j.               Penampilan fisik angket
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket.

C.            Observasi
Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis.
Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
1.             Macam-macam Observasi
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi participant observation dan non participant observation.
a.              Observasi berperanserta
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.
b.             Observasi nonpartisipan
Dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.
Sedangkan dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan  menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
a.              Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancanag secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya. Misalnya penelitian kuantitatif.
b.             Observasi tidak terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Misalnya observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak terstruktur, karena fokus penelitian belum jelas.
2.             Manfaat Observasi
Menurut Patton dalam Nasution (1988), dinyatakan bahwa manfaat observasi adalah sebagai berikut.
a.              Dapat diperoleh pandangan yang holistik atau menyeluruh.
b.             Memperoleh pengalaman langsung, sehingga memungkinkan menggunakan pendekatan induktif. Pendekatan induktif membuka kemungkinan melakukan penemuan.
c.              Peneliti dapat melihat hal-hal yang kurang atau tidak diamati orang lain.
d.             Peneliti dapat menemukan hal-hal yang sedianya tidak akan terungkap oleh responden dalam wawancara.
e.              Peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © 2014. "MASTER MUNYIL". Designed by: BigsMaster